JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan Indonesia memerlukan generasi muda yang sanggup menyambungkan potensi serta keahliannya demi kepentingan publik dan pembangunan nasional.
Kala menyampaikan orasi ilmiah pada agenda wisuda XXXVII Universitas Bangka Belitung (UBB) Tahun 2026, Bangka Belitung, Senin (27/7/2026), ia menyebut Indonesia tak sekadar memerlukan anak muda yang dibekali keahlian semata.
"Terlebih di tengah perubahan dunia yang berlangsung cepat akibat perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI)," tutur Yusril, seperti dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, laju kemajuan teknologi telah memperluas akses pengetahuan sekaligus merombak lanskap dunia kerja, sehingga anak muda dituntut untuk rajin mengasah keterampilan dan lincah beradaptasi menghadapi perubahan.
Ia menilai teknologi memang sanggup mempercepat pekerjaan, namun tak akan pernah bisa menggantikan pertimbangan moral, rasa tanggung jawab, integritas, serta empati kepada sesama.
Lantaran hal itu, di tengah pesatnya kecerdasan buatan, ia menandaskan bahwa karakter dan tujuan tetap menjadi penentu masa depan.
Yusril turut mengingatkan bahwa tantangan generasi muda masa kini bukan lagi seputar bagaimana meraih informasi, melainkan cara memilih serta memastikan kebenaran dan keandalan data yang dipakai.
Dalam kerangka tersebut, ia melanjutkan, daya pikir kritis, kecakapan digital, integritas, kerja sama, adaptabilitas, serta inovasi menjadi kompetensi vital yang patut terus diasah.
Guna mencapai hal tersebut, Menko memacu generasi muda agar menjadikan pengetahuan, kapasitas diri, dan integritas sebagai pijakan utama dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi warga, bangsa, dan negara.
Ia mengingatkan momen wisuda bukanlah titik akhir dari pengembaraan akademis, melainkan gerbang awal bagi para wisudawan untuk melangkah ke dunia nyata dengan tanggung jawab, ujian, serta ketidakpastian yang jauh lebih besar.
Oleh sebab itu, ucapnya, para lulusan tak cukup cuma bersandar pada lembar ijazah dan gelar semata. Pengetahuan yang didapat sepanjang menuntut ilmu mesti sanggup diterjemahkan menjadi kemampuan berpikir runtut, memisahkan fakta dari prasangka, merumuskan solusi, hingga menjawab problematika riil di tengah masyarakat.
“Wisuda bukan garis akhir. Wisuda menandai berakhirnya satu tahap pendidikan dan dimulainya kewajiban untuk menjawab persoalan nyata sebagai seorang sarjana," ungkapnya.
Ia menandaskan bahwa gelar akademis merupakan amanah untuk berpikir serta bertanggung jawab, sedangkan ilmu mesti dimanfaatkan guna memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Sebab itu, ia pun mengajak para wisudawan untuk tak membatasi impian hanya lantaran berasal dari daerah tertentu.
Ia menilai perjalanan hidup akan membentuk pola pikir, memperluas cakrawala, serta menempa jiwa kepemimpinan.
Yusril mengutarakan bahwa tak ada jalan menuju keberhasilan yang selalu mulus, sehingga pengalaman dan ketabahan menjadi bagian krusial dalam membentuk talenta produktif.
“Jangan batasi cita-cita karena asal daerah. Teruslah belajar sepanjang hayat dan jadikan ilmu yang dimiliki sebagai manfaat bagi masyarakat,” ucap Menko.
Pada kesempatan itu, Yusril juga menggarisbawahi pentingnya integritas sebagai fondasi utama membangun kepemimpinan dan kemajuan bangsa.
Ia berpandangan bahwa dunia pendidikan membekali pengetahuan dan keahlian sebagai modal berkarya, namun ilmu tersebut wajib disertai rasa tanggung jawab, etika, serta kejujuran.
Ia menekankan bahwa integritas membentuk kepercayaan, dan kepercayaan merupakan modal utama kepemimpinan.
"Setiap keputusan membawa konsekuensi bagi diri sendiri, organisasi, dan masyarakat. Karena itu, ilmu harus digunakan secara bertanggung jawab dan menghormati nilai-nilai moral,” kata Yusril.
Lewat momentum Wisuda XXXVII Universitas Bangka Belitung, dirinya pun mengimbau para lulusan untuk meneruskan langkah dengan semangat belajar, beradaptasi, dan terus berkarya.
Para lulusan diharapkan sanggup menjadikan ilmu, keterampilan, serta integritas sebagai bekal menghadapi dinamika zaman sekaligus menyumbang kontribusi nyata untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Di sisi lain, Rektor Universitas Bangka Belitung Ibrahim turut mengobarkan semangat kepada para wisudawan dan wisudawati. Ia mengimbau agar para lulusan tak gampang menyerah kala menjumpai pelbagai hambatan dalam dinamika kehidupan selepas lulus.
Ia mendorong para wisudawan untuk terus berjuang dan menjadikan pelbagai tantangan sebagai proses pendewasaan diri.
Para lulusan juga diharapkan mampu mengabdikan ilmu serta potensi yang dipunyai untuk kemaslahatan bangsa dan negara.
Dalam pesannya, Ibrahim mengingatkan para wisudawan agar tak melupakan jasa dan pengorbanan orang tua yang telah mengalirkan dukungan selama masa studi.
Dengan demikian, perayaan wisuda diharapkan bukan cuma menjadi panggung selebrasi atas kelulusan, melainkan juga bentuk penghormatan atas doa, perjuangan, serta pengorbanan orang tua yang setia mendampingi hingga fase ini.
Ia menyampaikan pesan itu menjadi pengingat bahwa capaian para wisudawan tak lepas dari proses panjang, kerja keras, sokongan keluarga, serta doa dari orang-orang terdekat.