5 Kesalahan Chat Setelah First Date yang Sebaiknya Anda Hindari

Jumat, 31 Juli 2026 | 03:20:01 WIB
5 Kesalahan Kirim Pesan Setelah First Date yang Bikin Buntung [FOTO: NET

JAKARTA – Kencan pertama yang bergulir menyenangkan kerap kali disusul dengan satu keraguan serupa: siapa yang semestinya melayangkan pesan teks terlebih dahulu? Tak sedikit individu yang memilih bersikap pasif lantaran ragu terkesan terlalu berhasrat. 

Sebaliknya, ada pula yang bergegas melayangkan banyak pesan karena khawatir peluang untuk melanjutkan hubungan akan pupus.

Padahal, merujuk pada pandangan psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD, interaksi pasca-first date selayaknya dilakukan secara jujur dan lugas. 

Cara seseorang melayangkan pesan juga sanggup membentuk persepsi awal yang memengaruhi kelangsungan hubungan. Lantas, kekeliruan apa saja yang patut dihindari sewaktu berkirim pesan pasca-first date?

1. Terlalu lama menunda berkirim pesan 

Masih banyak orang yang memegang teguh "doktrin tiga hari", yakni sengaja senggang beberapa hari sebelum menyapa kembali demi memberikan kesan tak berlebihan mengejar. Padahal, Romanoff menegaskan bahwa kaidah tersebut tak lagi kontekstual. 

Apabila Anda menikmati kencan pertama dan berhasrat mengenal rekan kencan lebih dalam, melayangkan pesan dalam kurun waktu sekitar 24 jam justru menjadi opsi yang lebih bijak. 

Pesan lugas untuk menyampaikan apresiasi atau mengutarakan bahwa Anda menikmati momen bersama sudah memadai untuk memperlihatkan ketertarikan tanpa terkesan berlebihan.

2. Melayangkan pesan beruntun sebelum direspons 

Salah satu kekeliruan yang paling kerap berulang adalah mengirim beberapa pesan secara bersamaan tatkala pesan perdana belum mendapatkan balasan. 

Contohnya, pasca-mengirim ucapan terima kasih, Anda kembali menyusulkan pesan untuk memastikan apakah pesan telah dibaca, lalu mendesak kapan bisa bersua kembali. 

Kebiasaan double texting atau bahkan memborbardir banyak pesan beruntun mampu memicu persepsi terlalu menekan dan memicu lawan bicara merasa kurang nyaman. 

Apabila telah melayangkan satu pesan, berikan tenggat ruang bagi mereka untuk merespons saat memegang waktu luang.

3. Terlalu menggebu mengutarakan perasaan 

Merasa menemukan kecocokan dengan seseorang pasca-kencan pertama memang terbilang wajar. Akan tetapi, bukan berarti Anda harus serta-merta mengumbar perasaan yang kelewat mendalam. 

Menyebut bahwa mereka merupakan "jiwa kembar", mengungkit masa depan bersama, atau mengaku telah jatuh hati padahal baru sekali bersua justru sanggup membuat lawan bicara merasa terbebani. 

Hubungan yang sehat memerlukan tempo untuk mekar secara alami. Oleh sebab itu, biarkan jalinan komunikasi bergulir tanpa perlu tergesa-gesa.

4. Kelewat banyak mengungkit riwayat asmara masa lalu 

Daya pikat penasaran terhadap rekam jejak asmara seseorang memang sulit ditepis. Kendati demikian, pesan perdana pasca-first date bukanlah momen yang tepat untuk mengorek kisah mantan atau riwayat percintaan mereka. 

Pertanyaan seperti penyebab hubungan terdahulu kandas atau frekuensi mereka pernah berpacaran dapat terkesan kelewat pribadi pada fase awal perkenalan. 

Ada baiknya, fokuslah pada topik percakapan yang rileks dan menyenangkan supaya komunikasi tetap terasa aman bagi kedua belah pihak.

5. Mengirim pesan kala emosional atau dalam pengaruh alkohol 

Romanoff turut mengingatkan agar tidak berkirim pesan sewaktu sedang dikuasai emosi atau pengaruh alkohol. 

Dalam kondisi demikian, seseorang cenderung bertindak lebih impulsif sehingga berisiko melayangkan pesan yang berlebihan, membingungkan, atau bahkan memicu penyesalan di kemudian hari. 

Apabila hendak menyapa seseorang pasca-kencan, pastikan Anda berada dalam kondisi tenang sehingga sanggup menyampaikan maksud pesan secara jernih.

Komunikasi yang Jujur Lebih Penting ketimbang Bermain Taktik 

Pada akhirnya, muara dari melayangkan pesan pasca-first date bukanlah mengeksekusi taktik agar terlihat lebih memikat, melainkan menunjukkan rasa hormat dan ketertarikan secara tulus.

 Pesan yang ringkas, santun, dan dikirim pada momentum yang pas umumnya sudah memadai untuk menjaga kehangatan komunikasi.

Sebaliknya, jika tidak memperoleh balasan, menghargai batas keputusan orang lain dan tidak terus merongrong juga menjadi manifestasi dari komunikasi yang sehat. 

Hubungan yang kokoh terbangun via komunikasi yang terbuka serta saling menghormati, bukan dengan permainan tarik ulur atau menebak-nebak perasaan satu sama lain.

Terkini