JAKARTA — Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan dengan menguat ke level Rp17.975 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan sesi Senin (3/8/2026), seiring dengan meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah usai Presiden AS Donald Trump dilaporkan menganulir rencana serangan ke Iran.
Selanjutnya, cermatan para pemodal pada hari ini bakal tertuju pada rilis data neraca perdagangan serta inflasi Indonesia.
Berdasarkan kalkulasi data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka terapresiasi sebesar 0,26% menuju posisi Rp17.975 per dolar AS.
Selain rupiah, penguatan juga melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Apresiasi paling tinggi atas dolar AS dibukukan oleh won Korea yang melonjak 0,76%, disusul yen Jepang yang terkerek 0,62%.
Selanjutnya, peso Filipina sanggup terapresiasi 0,36%, mengekor baht Thailand yang naik 0,32%, serta rupee India yang menguat 0,30%. Lebih lanjut, dolar Singapura menanjak 0,16% terhadap dolar AS, yuan China terangkat 0,03%, dolar Taiwan menguat 0,02%, dan dolar Hong Kong merangkak tipis 0,01%.
Hanya mata uang ringgit Malaysia yang terpantau terkoreksi tipis 0,01% terhadap dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa penguatan mata uang rupiah dipicu oleh meredanya eskalasi geopolitik di Timur Tengah seusai Presiden AS Donald Trump dikabarkan membatalkan rencana penyerangan ke Iran.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah setelah Trump mengatakan pada Minggu pagi bahwa ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran," ujar Lukman, Senin (3/8/2026).
Kendati demikian, penguatan rupiah diproyeksikan tidak akan bergerak terlalu melesat. Para pelaku pasar masih menantikan sejumlah indikator ekonomi krusial dari dalam negeri yang akan dirilis pada siang hari ini dan berpotensi mengarahkan pergerakan pasar keuangan domestik.
Menurut kalkulasi Lukman, rupiah diperkirakan bakal berfluktuasi pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Atensi investor bakal berfokus pada data neraca perdagangan Indonesia yang diproyeksikan kembali membukukan defisit sekitar US$0,8 miliar.
Apabila terealisasi, situasi tersebut bakal menjadi perhatian pasar lantaran dapat mencerminkan tekanan pada sektor eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di samping itu, pasar juga menantikan rilis data inflasi tahunan (year-on-year/YoY) yang diproyeksikan melandai ke level 3,2%. Angka inflasi yang makin jinak berpotensi memberikan ruang bagi Bank Indonesia guna mempertahankan kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Apabila data lebih baik dari perkiraan, bisa mendukung baik rupiah dan IHSG," katanya.
Di lain sisi, pemodal global juga terus mencermati dinamika kebijakan suku bunga AS usai sederet data ekonomi Negeri Paman Sam memperlihatkan sinyal perlambatan aktivitas ekonomi.
Kondisi tersebut memantik harapan bahwasanya Federal Reserve (The Fed) akan mulai mempertimbangkan opsi pelonggaran kebijakan moneternya dalam kurun beberapa bulan mendatang.