SAHAM

BI Pertahankan Suku Bunga, Ini Dampaknya pada Saham Perbankan dan Kinerja Kredit

BI Pertahankan Suku Bunga, Ini Dampaknya pada Saham Perbankan dan Kinerja Kredit
BI Pertahankan Suku Bunga, Ini Dampaknya pada Saham Perbankan dan Kinerja Kredit

JAKARTA - Bank Indonesia kembali memutuskan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18–19 Februari 2026, bersama dengan suku bunga Deposit Facility pada 3,75% dan Lending Facility pada 5,50% sebagai bagian dari bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas perekonomian yang masih terpengaruh oleh kondisi global yang tidak pasti serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Keputusan ini diambil di tengah ekspektasi pasar bahwa BI akan tetap pada kebijakan stabil, sebagaimana yang tercermin dalam survei investor sebelum pengumuman resmi.

Bank sentral mengevaluasi sejumlah indikator ekonomi, termasuk inflasi yang masih berada dalam kisaran target 2,5±1% dan upaya menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, meskipun tekanan eksternal masih membayangi pasar keuangan domestik. Keputusan mempertahankan suku bunga ini mencerminkan fokus BI pada stabilitas makroekonomi sambil menunggu efektivitas transmisi kebijakan moneter secara lebih optimal.

Dampak Kebijakan terhadap Saham Perbankan

Keputusan BI untuk menahan suku bunga dinilai membawa dampak netral hingga positif pada saham emiten perbankan, terutama bank-bank besar yang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter. Community Lead PT IndoPremier Sekuritas, David Kurniawan Soebekti, menilai stabilitas suku bunga ini membantu menjaga persepsi risiko investor dan menopang kinerja fundamental industri perbankan. “Secara jangka pendek, dampak penahanan suku bunga cenderung netral hingga positif,” ujar David kepada Ipotnews melalui pesan WhatsApp Jumat (20/2).

Menurut David, salah satu faktor utama yang mendukung sentimen terhadap saham perbankan adalah stabilitas Net Interest Margin (NIM). Dengan suku bunga yang tidak naik, biaya dana perbankan menjadi lebih terprediksi, sehingga bank dapat mempertahankan profitabilitas dan menarik minat investor terhadap saham-saham bank besar. “Dengan bunga yang tidak naik, cost of fund perbankan menjadi lebih terprediksi, yang membantu menjaga Net Interest Margin tetap tebal,” jelas David.

Investor seringkali merespons positif kebijakan yang konsisten dan hati-hati seperti ini, karena memberikan kepastian arah kebijakan moneter. Saham-saham big caps perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI sering menjadi incaran utama investor saat ada kepastian moneter, sehingga harga sahamnya cenderung terjaga dari koreksi tajam.

Pengaruh pada Permintaan Kredit dan Aktivitas Bisnis

Selain sentimen pasar, penahanan suku bunga juga berdampak pada sisi intermediasi perbankan. David menilai keputusan BI untuk menahan BI-Rate tidak menghambat penyaluran kredit. Sebaliknya, hal ini memberikan kepastian bagi bank dalam menentukan tingkat bunga kredit, sehingga perbankan tidak perlu segera menaikkan bunga pinjaman. Kebijakan ini diharapkan menjaga permintaan kredit dari sektor riil dan konsumsi rumah tangga tetap terjaga, khususnya menjelang momentum Ramadan yang sering kali meningkatkan kebutuhan pembiayaan di sektor properti dan ritel.

David juga memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap solid, didukung oleh pemulihan sektor-sektor tersebut, yang merupakan indikator penting bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Menjaga permintaan kredit di tengah kebijakan suku bunga yang stabil dianggap dapat memperkuat peran perbankan dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Keseimbangan Kebijakan di Tengah Ketidakpastian Global

Bank Indonesia menjelaskan bahwa keputusan mempertahankan suku bunga acuan juga bertujuan untuk menyeimbangkan stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, di mana tekanan terhadap rupiah masih tetap menjadi salah satu tantangan utama. Dalam konteks ini, kebijakan moneter dipadukan dengan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar, termasuk operasi di pasar valuta asing yang lebih aktif jika diperlukan.

Kebijakan ini diambil pada saat inflasi domestik masih terkendali, tetapi dinamika global, termasuk arah suku bunga global dan tekanan pada mata uang di banyak negara berkembang, turut mempengaruhi keputusan bank sentral untuk tetap berhati-hati.

Prospek Kebijakan Moneter dan Transmisi ke Pasar Kredit

Meski suku bunga acuan dipertahankan, transmisi penurunan suku bunga kebijakan ke suku bunga kredit perbankan masih berjalan terbatas. Secara historis, BI telah menurunkan BI-Rate sejak tahun sebelumnya sebagai bagian dari siklus pelonggaran moneter, namun penurunan suku bunga kredit dan deposito di perbankan belum secepat pemangkasan tingkat kebijakan. Bank Indonesia terus mendorong efektivitas transmisi kebijakan moneter agar penurunan suku bunga ini dapat lebih terasa di sektor riil dan mendukung pertumbuhan kredit yang lebih tinggi di masa mendatang.

Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan ekonomi domestik dan global sebagai dasar pengambilan keputusan berikutnya, termasuk kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut jika kondisi memungkinkan dan transmisi kebijakan telah menunjukkan efektivitas yang lebih kuat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index