Kinerja Positif, Laba Pertamina Geothermal Naik Jadi Rp1,4 T

Jumat, 31 Juli 2026 | 01:10:01 WIB
Laba Bersih PGEO Naik 15,48% Jadi Rp1,4 T di Kuartal II/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan perolehan laba bersih sebesar US$79,607 juta atau setara dengan kisaran Rp1,44 triliun (menggunakan asumsi kurs Rp18.069 per US$) hingga penutupan kuartal II/2026. Angka laba bersih tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,48% jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year / yoy).

Kenaikan perolehan laba ini berjalan lurus dengan pertumbuhan pendapatan emiten bersandi saham PGEO tersebut yang tumbuh 14,7% yoy menjadi US$235,027 juta atau senilai Rp4,24 triliun pada kuartal II/2026. Sebagai perbandingan, pada periode kuartal II/2025 sebelumnya, Perseroan mengantongi pendapatan di angka US$204,850 juta.

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengemukakan bahwa pencapaian ini mencerminkan konsistensi korporasi dalam menerapkan strategi bisnis yang berjalan efektif, efisien, serta berkesinambungan.

Ia menyampaikan, lonjakan pendapatan itu turut terefleksikan pada perolehan laba bersih perseroan yang naik 15,48% secara tahunan menjadi US$79,607 juta. Capaian positif tersebut ditopang oleh peningkatan volume produksi serta keandalan operasional fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), ditambah adanya surplus keuntungan dari selisih kurs.

Fransetya memaparkan, sepanjang semester I/2026, total produksi dari PGE berhasil menyentuh angka 2.745 gigawatt hour (GWh), yang berarti terkerek naik sebesar 13,62% apabila disandingkan dengan periode serupa tahun lalu yang membukukan 2.416 GWh.

"Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Fransetya melalui keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Trajektori performa PGE juga memperlihatkan tren akselerasi yang kuat pada kuartal II/2026, di mana laba bersih pada kuartal I/2026 yang sebelumnya tercatat sebesar US$43,899 juta melesat signifikan hingga menembus akumulasi US$79,607 juta pada akhir kuartal II/2026.

Dari sudut pandang struktur permodalan, ekuitas perseroan terpantau berada di posisi US$2,006 miliar pada kuartal II/2026. Menurut Fransetya, kondisi ini menggambarkan fondasi keuangan yang kokoh dengan kapasitas mumpuni dalam menuntaskan kewajiban sekaligus mencetak profitabilitas.

Di sisi lain, total liabilitas Perseroan justru menyusut 2,80% ketimbang posisi per 31 Desember 2025 menjadi US$961,184 juta. Penurunan liabilitas ini memberikan dampak konstruktif terhadap penguatan struktur modal sekaligus meredam tingkat risiko keuangan perseroan.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani menambahkan, tahun 2026 merepresentasikan satu abad perjalanan energi panas bumi di Indonesia, yang menjadi warisan nasional sekaligus pengingat pentingnya unsur inovasi serta kolaborasi guna mempercepat ekspansi energi bersih di Tanah Air.

Ia menerangkan, panas bumi memegang peran sebagai pilar strategis energi nasional lantaran karakteristiknya yang bersih, dapat diandalkan, serta berstatus base load sehingga sangat ideal untuk menopang stabilitas sistem kelistrikan di tengah masa transisi energi.

“Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70% energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami," ucap Ahmad.

Selaras dengan hal tersebut, dinamika pertumbuhan sektor energi baru terbarukan (EBT) menunjukkan tren yang semakin menjanjikan. Hal ini tecermin lewat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) rentang 2025 sampai 2034, yang mematok porsi EBT sebesar 76%, di mana panas bumi diproyeksikan menyumbang kapasitas hingga 5,2 gigawatt (GW) dalam kurun waktu tersebut.

Guna mendukung akselerasi target itu, PGE membidik kapasitas terpasang hingga menyentuh 1 GW pada tahun 2028 serta meningkat menjadi 1,8 GW pada tahun 2033. Saat ini, Perseroan sendiri mengelola sebanyak 15 wilayah kerja panas bumi dengan total kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta terus memberikan kontribusi nyata bagi pasokan listrik di berbagai wilayah.

Melalui pengelolaan sekitar 70% dari keseluruhan kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE memantapkan diri sebagai salah satu fondasi krusial dalam menopang ketahanan kelistrikan nasional sekaligus memuluskan langkah transisi menuju sistem energi yang ramah lingkungan.

Terkini