Buah Matang Mengandung Gula Lebih Tinggi? Ini Penjelasan Pakar IPB

Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:53:32 WIB
Mengapa Buah Matang Lebih Manis dan Tinggi Gula? Ini Kata Guru Besar IPB [FOTO: NET].

JAKARTA - Menentukan buah yang sudah matang sempurna atau masih mengkal rupanya bukan hanya perkara selera. Tingkat kematangan buah turut menentukan kadar gula yang tersimpan di dalamnya.

 Oleh sebab itu, pilihan antara memakan buah matang atau mengkal bisa disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi serta kondisi kesehatan masing-masing.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof. Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa buah yang kian matang pada umumnya memiliki kandungan gula yang lebih tinggi.

Mengapa buah matang lebih manis? 

Menurut Antonius, sepanjang proses pematangan berlangsung, pati kompleks yang terdapat pada buah bakal diuraikan menjadi gula sederhana. 

Pada buah yang kondisinya masih mengkal, kandungan karbohidratnya masih didominasi pati resisten yang diserap oleh tubuh secara lebih lambat. Seiring berjalannya proses pematangan, pati kompleks tersebut berganti menjadi gula sederhana, seperti glukosa, fruktosa, maupun sukrosa.

"Makanya, makin matang buahnya, makin tinggi juga kandungan gulanya dan rasanya jadi semakin manis," ujar Antonius, Kamis (30/7/2026).

Kendati kadar gulanya melonjak, buah yang sudah matang tetap menyimpan vitamin dan antioksidan. Atas dasar itu, pilihan antara mengonsumsi buah matang atau mengkal ada baiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kondisi tubuh tiap individu.

Pada sebagian jenis buah, tingkat kematangan tertentu malah lebih diminati. Antonius memberi contoh durian yang bagian kulitnya masih keras, namun tekstur daging buahnya telah lunak. 

Dalam keadaan demikian, kadar gula pada durian masih relatif lebih rendah dibandingkan buah yang sudah matang seutuhnya.

Buah mengkal bisa jadi pilihan 

Antonius memaparkan, buah mengkal dapat dijadikan opsi alternatif bagi orang yang hendak membatasi asupan gula lantaran kandungan fruktosanya cenderung lebih rendah. Kendati begitu, buah mengkal tetap menyimpan vitamin, mineral, serta serat yang berguna bagi kesehatan tubuh.

Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa porsi buah yang disantap jauh lebih menentukan daripada sekadar memperhatikan tingkat kematangannya saja.

"Jika makan buah yang masak tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak, mungkin masih lebih baik dibandingkan makan buah yang setengah matang, tetapi jumlahnya banyak," jelasnya.

Menurut Antonius, baik buah mengkal maupun buah matang sama-sama menyajikan manfaat bagi kesehatan selama dikonsumsi secara cermat dan tidak berlebihan. Ia juga menganjurkan agar buah dikonsumsi dalam bentuk utuh supaya kandungan serat alaminya tetap terjaga.

Serat alami ini berfungsi sebagai asupan makanan bagi bakteri baik yang berada di usus besar. Bakteri tersebut memegang peranan penting dalam memelihara sistem kekebalan tubuh sekaligus memproduksi beragam senyawa, termasuk vitamin dan hormon, yang menyokong kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk kesehatan mental.

"Kalau konsumsi buah, sebaiknya buah yang utuh karena buah utuh mengandung serat. Dua-duanya, baik buah mengkal maupun matang, tetap jauh lebih baik daripada ngemil junk food," pungkasnya.

Terkini